Mulutan di Warkop elKahfie '87

           "sebentar lagi mulutan..."

         "hmm... koq mulutan???.... bukannya tiap hari kamu mulutan Yan...????"

          "hehee... itu kan urusan mulut Neng, kalau ngurusin mulut sich tiap hari..., maksudku maulidan..."

            "mestinya kamu bedakan, mana mulutan... dan mana maulidan..."

            "habis... kalau nggak ada mulutan, maulidan kurang asyik Neng.... apakah kita maulidan tanpa mulutan...??? tanpa makan dan tanpa minum??? lapar dunk.....!!"

         "mesti harus ada tuh...., yang penting kan niatnya sedekah, bukan pesta pora...iya / nggak..??"

          "bener banget Neng.. tentang tema bagaimana kalau tentang 'CINTA'... kan maulidan tahun ini bersamaan dengan hari 'VALENTINE' yang katanya orang-orang sich hari kasih dan sayang... bagaimana dan apa jadinya, jika dua kebudayaan berkumpul jadi satu dalam satu kesatuan wadah yang kita sebut 'CINTA'.."

           "wah.... mulai nggak bener nich orang.... pasti kamu mau bikin ulah, seperti yang di tivi-tivi itu ya Yan..??? kebanyakan nonton tivi kamu, yang bener aja kamu Yan... bukannya seru, malah 'saru' (kasar dan keliru).. meniru suatu golongan tu berarti kamu juga bagian dari golongan tersebut..?? dan itu jelas tidak dibenarkan."

           "ya jangan Su'udzon gitu Ndra.... barangkali Radyan punya maksud lain, yang belum dapat kamu pahami.. dengerin dulu penjelasannya...!!, hargailah pendapat orang lain...!!"

           "maaf... bukan bermaksud Su'udzon Neng, aku kan cuma prediksi aja..."

           "sama aja Ndra..., kamu kan cuma memperhalus gaya bahasamu doank..., maksud saya itu begini loch... secara garis besar, dengan semangat maulid ini, mari kita menyelami samudera akhlak Rasulullah Saw, dan menjadikannya sebagai teladan bagi kita, kata orang : 'Tak kenal, Maka tak sayang.' lalu, bagaimana kita bisa mencintai dan menyayangi Rasulullah Saw, bila kita tidak mengenal/ mempelajari kehidupan Beliau..??"

            "ada benarnya juga sich.. tapi, acaranya dimana.. dan bagaimana???.."

            "sebenarnya hatiku masih belom mantap nich... ada hadits yang menyebutkan : ... bahwa setiap amalan yang tidak didasari atau tidak di ajarkan oleh Rasulullah Saw, dan Para Sahabat Beliau.. maka ia tertolak.. dan itu termasuk dalam kategori bid'ah..."

            "Indra... Indra..., jadi orang ya jangan suka su'udzon.. ga' baik.." kata Mas Tirto pemilik warung ini. "sudahlah... jangan berdebat terus,, lihatlah hikmahnya apa?? jangan selalu merasa paling benar sendiri... maunya menang sendiri... itu juga ga' baik."

            "ya.. mau bagaimana lagi Mas, kata Guru saya dulu begitu,, waktu aku masing jadi Santri di Pesantren..".

            "memangnya sekarang sudah nggak di Pesantren lagi Ndra..?? koq kaya'nya kamu masih di Pesantren (Pengangguran Santai Keren)" 

*tertawalah se-isi warung... hehee...

            "Peringatan Maulid yang sering kita saksikan bersama memang tidak pernah diadakan oleh Nabi dan Para Sahabatnya, itu karena kesibukan Beliau untuk mengemban dakwah, menyebarkan risalah, berperang menghadapi musuh-musuh Islam dan kesibukan-kesibukan lainnya. akan tetapi bukan berarti Beliau, Rasulullah Saw, tidak memperingati maulid (kelahiran Beliau). perasaan gembira tersebut Beliau ungkapkan dengan melakukan puasa. pernah seorang sahabat bertanya kepada Beliau:
"Sesungguhnya Nabi Saw di tanya tentang puasa pada hari senin, maka Beliau menjawab: pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula diturunkan wahyu kepadaku." (HR.Imam Muslim)
hadits ini menunjukkan bahwa Beliau pun senang akan hari kelahirannya, walaupun dalam konteks yang tidak sama (dengan cara berpuasa) dan kita memperingatinya dengan cara mengumpulkan orang-orang untuk berdzikir, bersholawat, bersedekah, meneladani akhlak Beliau melalui ceramah-ceramah agama.. dsb. akan tetapi tujuannya adalah sama. Peringatan Maulid Nabi adalah suatu Peringatan yang di anggap baik oleh sebagian besar Para Ulama' di dunia sejak dahulu kala, dan sesuatu yang di anggap baik oleh Para Ulama' adalah dianjurkan, tentunya mengandung pengertian yang positif. banyak Para Ulama' yang menyambut positif Peringatan Maulid sejak Peringatan tersebut diadakan.sedangkan kalau akhir-akhir ini dipermasalahkan oleh satu dua orang atau golongan, tidak akan mempengaruhi pendapat sebagian besar dari Ulama' yang kadar keilmuannya jauh lebih tinggi daripada yang melarang, bahkan menganggapnya syirik... dan sekarang bagaimana, itu terserah kalian..??" kata Mas Tirto.

            "hmm... begitu ya Mas..., ya sudah, kita bikin acara maulidan di warung ini saja, nanti kita undang orang-orang kampung, tetangga kita (orang-orang di bengkel elkahfie '50), Para Jama'ah Masjid Jami' Shirothol Mustaqim, Remasnya juga... kita adakan open house setiap malam, dialog terbuka 'meneladani Rasulullah Saw' selama bulan maulid ini. terakhir kita tutup dengan membaca Shalawat Nabi." kata Indra.

*bak panitia resmi, mereka langsung rapat merencanakan acara open house maulid malam itu juga

              "Neng.., acara puncaknya kita hadirkan Para Pecinta Allah dan Rasul-Nya.."

              "Siapa Mas?"

*Mas Tirto merenung sejenak.

          "ya... siapa saja yang merasa mencintai Allah dan Rasul-Nya, tak memandang siapa dia..apakah para makelar, polisi maupun politisi, birokrat, biro jasa, para sesepuh, kyai, orang-orang di pasar, pengacara (pengangguran banyak acara)... pokoknya semuanya... semuanya...."

           "tahunya mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya... darimana Mas??" tanya Radyan.

            "nah.. itu yang menjadi kegundahan saya... bukan karena bagaimana memilih mereka. jangan-jangan malah kita ini sok mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu bikin acara seperti ini, biar kita dianggap paling mencintai Allah dan Rasul-Nya, atau merasa paling.............. ini malah riya' super, super sombong namanya.."

*mereka terdiam seribu bahasa... sesekali geleng-geleng, kadang manggut-mangut seperti perkutut, tapi tetap tak ada suara...

             "jadi nggak kita Maulidan..???" tanya Indra memecah keheningan.

             "nggaaaaaaaakkkkk......" jawab mereka serentak.

             "lalu....???"

        "kita perbanyak Shalawat saja...." kata Mas Tirto menutup pembicaraan, dan kemudian pergi.

Komentar